Misteri Padang Pasir Di Kersik Luway

Posted on April 9, 2012

0



Oleh Datu Iskandar Zulkarnaen (Datiz)

ImageSaat menyebut “padang pasir” maka benak kita seperti LCD proyektor yang memperlihatkan hamparan luas padang pasir serta patung raksasa spinx anggun berdampingan dengan piramida yang dilalui kawanan onta.

Pernahkah terbayangkan di tengah belantara Kalimantan Timur yang dikeliling hamparan hutan tropis basah nun jauh di pedalaman sana ada padang pasir…?

LCD proyektor benak kita sulit memunculkan gambaran padang pasir dalam “heart of Borneo”, kalaupun dipaksakan mungkin hanya gambaran lahan-lahan kritis akibat ulah peladang yang membuka lahan dengan sistem pembakaran atau karena ulah perusahaan perkebunan nakal serta yang hanya membabat hutan, termasuk ulah cukong-cukong illegal logging.

Memaksakan benak kita membayangkan padang pasir di tengah belantara itu akan sulit jika tidak datang langsung melihat kenyataan bahwa di pedalaman Pulau Borneo, khususnya di Taman Anggrek Kersik Luway Kabupaten Kutai Barat (Kalimantan Timur) ternyata terdapat padang pasir. 

Melihat fenomena unik dan luar biasa di kawasan yang masuk wilayah Sekolaq Darat, Kutai Barat, Kaltim itu akan menghapus bayangan tentang pedalaman Kalimantan hanya terdapat hamparan hutan hujan tropis basah dengan pohon-pohon raksasa berusia ratusan tahun.

Perasaan takjub akan memenuhi benak wisatawan karena melihat hamparan padang pasir cukup luas, yakni sekitar 500 hektare sedangkan sekelilingnya masih dikelilingi oleh hutan lebat dengan pohon-pohon berusia ratusan tahun seperti pengawal raksasa.

Tidak cukup dengan keunikan padang pasir di tengah belantara hutan itu, kawasan yang tampak kontras dengan alam sekelilingnya itu juga menjadi tempat subur berkembangnya bermacam jenis tumbuhan, antara lain “kantong semar”, pardu dan berbagai spesies termasuk yang sangat langka di di dunia, yakni Anggrek Hitam (Coelogyne pandurata).

Kelangkaan flora itu di dunia sehingga tumbuhan ini menjadi maskot resmi flora Kalimantan Timur dan Pulau Kalimantan, seperti halnya Pesut Mahakam, Burung Enggang dan Orangutan sebagai maskot untuk fauna.

Tumbuhan itu disebut Anggrek Hitam atau Black Orchid karena pada lidahnya terdapat warna hitam. Tumbuhan sejenis ini juga tumbuh itu di Malaysia, Sumatra dan di Mindanao serta Luzon (Filipina). Tunbuhan ini umumnya tumbuh pada pohon tua, di dikat kawasan pantai atau di daerah rawa dataran rendah yang cukup panas.

Seperti halnya sejumlah obyek wisata di Kaltim, maka hambatan utama untuk menjangkau kawasan ini adalah persoalan kelemahan infrastruktur perhubungan, apalagi wilayahnya berada di kawasan pedalaman Kaltim, sehingga butuh dana tidak sedikit untuk menjangkaunya.

Tapi, dengan perkembangan cukup pesat pembangunan di wilayah Kutai Barat yang dimekarkan menjadi sebuah daerah sendiri –dipisahkan dengan kabupaten induk Kutai Kartanegara sesuai UU Nomor 47 Tahun 1999 tentang Pemekaran Wilayah– kini kawasan itu kian terbuka karena bisa dijangkau dengan sarana perhubungan sungai, darat dan udara dengan menggunakan pesawat perintis baik dari Samarinda ataupun Balikapapan.

Sedangkan bagi wisatawan yang memiliki waktu tinggal cukup lama di Kalimantan Timur maka bisa menggunakan transportasi sungai, kapal reguler yang menyelusuri kawasan Sungai Mahakam dengan jarak sekitar 300 Km dari Samarinda, biaya lebih murah namun butuh waktu satu hari satu malam untuk mencapainya.

Potensi wisata yang luar biasa itu kenyataannya belum tergaraf optimal. Belum ada investor yang mau mengembangkan usaha di bidang itu, misalnya membuat kapal wisata yang refrensitatif namun bukan sekedar melihat kawasan pedalaman akan tetapi menyediakan beberapa paket kunjungan wisata, misalnya melihat Museum Tenggarong, air terjun, danau serta melihat Taman Kersik Luway.

Sudah tentu tugas pemerintah daerah hanya sebagai regulator dan fasilitator sedangnya upaya pengembangan sektor wisata itu seharusnya lebih berperan pihak swasta.

Warga setempat juga berperan penting, oleh sebab itu, pemerintah daerah provinsi dan Pemkab Kutai Barat terus menerus mendorong masyarakat untuk berperan aktif dalam menjaga kelestarian obyek-obyek wisata alam, misalnya di Kersik Luway.

Kersik Luway termasuk kawasan yang rawan terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan pada saat musim kemarau panjang, seperti kasus yang menimpa lokasi itu pada 1982 dan 1997 sehingga hampir sebagian rusak dilalap api.
Faktor penyebab kebakaran hutan dan lahan itu, bisa akibat proses alami namun juga karena ulah manusia, misalnya membuat puntung rokok sembarangan atau rambahan api dari ladang berpindah.

Masih Misteri
Selain takjub dengan keberadaan padang pasir di tengah hutan belantara di jatung Borneo yang menyimpan tanaman langka itu, suasana misteri dan mistis juga akan terasa saat menginjakan kaki di Kersik Luwai.

Keberadaan padang pasir di tengah belantara itu sampai kini masih menjadi misteri karena belum ada penelitian untuk membuka tabir rahasia alam itu.

Bagi masyarakat pedalaman, khususnya dari Suku Dayak, sub-etnis (anak suku) Dayak Benuaq dan Dayak Tunjung (Suku Asli Kutai Barat) maka keberadaan padang pasir di tengah belantara itu menjadi suatu kawasan keramat sehingga menjadi tempat pemujaan, sehingga kawasan itu dinamakan Kersik Luwai atau “Pasir Damai”.

Banyak cerita rakyat dan lagenda lahir dari kawasan Kersik Luway. Bagi warga Dayak di Kutai Barat, kawasan Kersik Luway sama dengan “Ayers Rock” yang menjadi tempat suci warga Aborijin di Australia.

Sikap warga pedalaman yang menjadikan kawasan itu sebagai keramat dari sisi pelestarian alam juga memberikan dampak positif karena tidak ada yang berani merusak atau mengambil tumbuhan atau berburu di kawasan itu.

Kalaupun dengan terpaksa maka mereka akan melakukan upacara ritual khusus untuk mengambil tanaman di kawasan itu.
Di kawasan itu tumbuh puluhan jenis anggrek, namun anggrek hitam menjadi “ratu” dari berbagai spesies tanaman yang tumbuh eksotik di padang pasir itu.

Bagi pengujung yang ingin menikmati keindahan anggrek hitam pekat yang langka di dunia itu, sebaiknya mengatur jadwal perjalanan saat memasuki musim kemarau, antara Juni-Agustus. Apalagi anggrek hitam hanya mekar dalam beberapa hari kemudian akan layu dan jatuh berguguran di padang pasir.

Wisatawan yang beruntung akan bisa melihat lidah bunga hitam pekat yang kelopak mahkotanya hijau mulus menjulur di batang tangkai.

Sebaiknya, Pemkab Kutai Barat harus menyesuaikan berbagai kegiatan pesta adat yang menampilkan berbagai atraksi tradisional seperti tarian Huddoq (topeng) dan perang dengan

saat mekarnya kembang anggrek hitam, sehingga wisatawan tidak hanya mengunjungi obyek wisata budaya namun juga keindahan taman anggrek langka di tengah padang pasir.

Keindahan dan keunikan budaya dari berbagai anak suku (sub-etnik) di kawasan pedalaman Kutai Barat juga menjadi daya tarik obyek wisata di kawasan pedalaman.

Meskipun berasal dari rumpun yang sama, yakni Dayak, namun sub-etnik di kawasan itu memiliki budaya, bahasa serta seni yang beragam.

Meskipun berbeda, namun mereka memiliki keyakinan yang sama dalam menjaga kesucian Kersik Luway, sehingga melihat keanekaragaman budaya berbagai sub-etnik Dayak di Kutai Barat tidak lengkap tanpa melihat dan mengetahui cerita rakyat dan lagenda yang lahir di Kersik Luway sebagai sebuah kesatuan yang mungkin bisa menjawab sebagian misteri padang pasir di tengah hutan belantara jatung Borneo itu.

Lebih Memperhatikan

Pihak DPRD Kalimantan Timur meminta kepada Pemkab Kutai Barat untuk lebih memperhatikan penanganan kawasan Kersik Luway, mengingat kondisi cagar alam yang menjadi taman anggrek hitam (coelogyne pandurata) terluas di dunia itu tampak kurang terawat.
     
“Kondisi   Cagar Alam   Kersik Luwai   cukup  menyedihkan. Lihat saja dimana-mana tumbuh belukar, selain itu  sampah-sampah  berserakan sehingga merusak pemandangan dan jelas menghambat upaya pelestarian cagar alam tersebut,” kata anggota DPRD Kaltim, Datu Yaser Arafat di Samarinda, belum lama ini.
     
Sekretaris Komisi IV DPRD Kaltim itu mengatakan bahwa Kersik Luwai merupakan salah satu obyek wisata andalan Kabupaten Kutai Barat.
     
“Daerah ini memiliki keunikan karena menjadi taman anggrek hitam terluas di dunia, seharusnya dikelola dengan baik  untuk menarik para wisatawan lokal maupun mancanegara, sehingga menambah pendapatan daerah,” kata dia yang belum lama ini melihat langsung kondisi Kersik Luway.
      
Menurutnya bahwa cagar alam yang kaya jenis anggrek tersebut harus mendapat perhatian dari Pemkab Kubar maupun Pemprov Kaltim, mengingat akan arti strategis kawasan yang memiliki keunikan yang hanya satu-satunya di dunia. 
      
“Kita khawatir apabila tidak terawat maka tanaman lain yang akan subur dan matikan anggrek hitam itu,” katanya.
      
Kawasan Cagar Alam Kersik Luway, selain dikenal sebagai taman anggrek hitam, juga memiliki keunikan lain, yakni pada kawasan seluas 5.000 Ha itu terdapat hamparan padang pasir di tengah hutan belantara.
      
Diperkirakan karena kurangnya penanganan cagar alam itu, maka beberapa kali hutan dan lahan di kawasan Kersik Luwai mengalami kebakaran hebat, khususnya pada 1982 dan 1998.
      
Kawasan cagar alam itu, kembali mengalami musibah kebakaran cukup hebat, yakni pada 21 September sampai  24 September 2009 sehingga menghanguskan sekitar 1.000 Ha lahannya. 
      
“Bukan tidak mungkin tanaman anggrek hitam itu akan punah di Kersik Luway akibat bencana kebakaran hutan serta kalah dengan tumbuhan lainnya,” imbuh politisi Kaltim dari PDI Perjuangan itu.
      
Terkait pendanaan untuk pemeliharaan cagar alam itu, kata dia bahwa DPRD Kaltim siap mendukung program Pemkab Kutai Barat dalam upaya pelestariannya.
     
Kersik Luwai adalah  merupakan habitat bagi spesies anggrek hutan lainnya , seperti  anggrek tebu (Grammatophyllum speciosum), anggrek merpati (Dendrobium rumenatum), dan anggrek sragotanga (Coelogyne foerstermanii). Selain itu banyak dijumpai kantong semar (Nephentes sp). 
      
Kepala Dinas Kehutanan Kaltim Ahmad Delmy saat dikonfirmasikan mengenai musibah yang menimpa kawasan itu menegaskan bahwa pihaknya  telah berupaya menyelamatkan spesies tumbuhan di Kersik Luwai, terutama anggrek hitam dengan cara rehabilitasi.
      
Menyinggung tentang hambatan rehabilitasi bagi kawasan cagar alam sesuai No 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan pada ayat 2.  
      
“Yang terpenting program rehabilitasi tidak mengubah fungsi hutan  karena jika tidak dilakukan rehabilitasi, spesies anggrek hitam bisa  terancam kelestariannya, begitu pula dengan puluhan spesies lainnya,” papar dia.
      
Program rehabilitasi meliputi perbaikan kondisi tanah dan spesies tumbuhan agar lebih mudah dan cepat tumbuh, bukan mengubah fungsi dasar hutan.  
      
“Program rehabilitasi itu juga kami koordinasikan dengan semua pihak, baik dari  Pemkab Kutai Barat, UPTD Dishut, termasuk BKSDA Kaltim agar tidak salah,” ujar Ahmad Delmy.

Posted in: Uncategorized