Uji Nyali Di Antara Pucuk Bangkirai

Posted on April 10, 2012

0



SamarindaImage – Bagi orang yang punya penyakit jantung dan phobia terhadap ketinggian maka jangan mencoba-coba melintasi jembatan tajuk (canopy bridge) pada kawasan hutan di Bukit Bangkirai, Kutai Kartanegara, Kaltim karena berada pada ketinggian 30 meter dari permukaan tanah.
Keberadaan jembatan tajuk atau istilah lokal sebagai “jembatan langit” itu kian terasa tinggi karena berada pada sebuah bukit sehingga hembusan angin membuat perasaan bercampur takut serta kagum melihat hamparan hutan bangkirai, salah satu pohon langka khas Kalimantan.
Namun, bagi wisatawan yang gemar tantangan serta melihat alam yang masih asli maka jembatan tajuk di hutan Bukit Bangkirai adalah pilihan tepat untuk menghabiskan musim liburannya sekaligus “uji nyali” saat melintasi jembatan yang puluhan meter dari atas permukaan tanah itu.
Masih banyak anggapan keliru orang yang menilai bahwa untuk melihat hutan rimba Kalimantan harus ke pedalaman yang membutuhkan tenaga, biaya dan waktu.
Padahal, ada kawasan dengan hamparan hutan hujan tropis basah yang mudah dijangkau, yakni hanya 58 kilometer ke arah selatan Balikpapan atau sekitar 150 km dari kota Tenggarong dan Samarinda. Sedangkan dari ibukota Kecamatan Samboja hanya 20 Jm.
Panjang keseluruhan jembatan tajuk di Bukit Bangkirai adalah 64 meter yang menghubungkan lima pohon Bangkirai. Melintasi canopy bridge, terdapat dua menara dari kayu ulin yang didirikan untuk mengelilingi batang pohon Bangkirai.
Canopy bridge di Bukit Bangkirai tercatat pertama di Indonesia, kedua di Asia dan yang ke delapan di dunia. Konstruksinya dibuat di Amerika Serikat agar faktor keamanan menjadi yang utama.
Mencapai kawasan wisata alam ini, wisatawan dapat menempuhnya melalui jalan darat dengan menggunakan kendaraan roda empat maupun roda dua baik dari Balikpapan, Tenggarong (Ibukota Kabupaten Kutai Kartanegara) dan Samarinda.
Pengelola Kawasan Wisata Alam Hutan Bukit Bangkirai telah melengkapi berbagai sarana dan prasarana telah dipersiapkan bagi para wisatawan yang datang seperti restoran dengan menu yang cukup bervariasi dan lamin untuk pertemuan yang mampu menampung 100 orang.
Kawasan itu juga dilengkapi penginapan berupa “cottage” dengan fasilitas AC maupun “jugle cabin”, yakni cottage yang tidak dilengkapi fasilitas listrik sehingga wisatawan yang menginap dapat merasakan suasana hutan yang sebenarnya.
Dari atas atas jembatan tajuk, maka terlihat formasi tajuk tegakan “Dipteropcarpaceae” yang menjadi ciri khas hutan hujan tropis, yang membentuk stratum atas yang saling sambung menyambung.
“Ini menyadarkan kita bahwa masih ada sebagian kawasan hutan yang masih bagus dan perlu dijaga kelestariannya, serta membangkitkan nilai-nilai spritual karena saat berada di ketinggian kita merasa kecil sekali ketimbang alam ini,” kata H. Ruslan, salah seorang pengunjung Bukit Bangkirai dari Samarinda yang sengaja membawa keluarganya untuk melihat panorama alam di kawasan itu.
Ia menjelaskan bahwa sebagian hutan di Kaltim kini banyak yang rusak sehingga untuk melihatnya harus ke kawasan pedalaman namun ada pilihan untuk melihat rimba yang tidak jauh dari kota, yakni hutan di Bukit Bangkirai.
“Kawasan ini juga sangat bagus bagi pendidikan, jadi saya sengaja membawa anak-anak untuk mengenalkan mereka tentang lingkungan dan hutan,” kata ayah beranak tiga itu.

Keanekaragaman Hayati
Kondisi hutan yang masih bagus menyebabkan kawasan hutan di Bukit Bangkirai menjadi habitat berbagai margasatwa, baik unggas, burung dan mamalia serta terdapat berbagai spisies tumbuhan langka sehingga memiliki bio diversity (keanekaragaman hayati) luar biasa.
Jenis-jenis fauna yang ada di kawasan seluas 1.500 Ha itu antara lain Owa-Owa (Hylobates muelleri), Beruk (Macaca nemestrina), Lutung Merah (Presbytus rubicunda), Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis), Babi Hutan (Susvittatus), Bajing Terbang (Squiler) serta Rusa Sambar (Corvus unicolor) yang telah ditangkarkan.
Kawasan itu yang diresmikan oleh Djamalludin Suryohadikusumo, Menteri Kehutanan RI pada Kabinet Pembangunan VI pada tanggal 14 Maret 1998 menyimpan berbagai jenis anggrek alam yang tumbuh secara alami di pepohonan yang masih hidup maupun yang sudah mati.
Secara geografis, kawasan Bukit Bangkirai termasuk dataran rendah “Dipterocarp forest” yang stabil sehingga menjadi wadah invasi burung dari wilayah Kawasan Hutan Taman Wisata Bukit Soeharto (sekitar 30 km) maupun wilayah sekitarnya yang terkena pengaruh kebakaran hutan.
Berdasarkan pengamatan para peneliti menemukan 113 jenis burung yang hidup di kawasan Bukit Bangkirai.
Selain itu, tercatat 45 jenis anggrek yang dapat dijumpai di kawasan itu, termasuk Anggrek Hitam (Coelegyne pandurata) yang sangat terkenal dan menjadi salah satu maskot Kalimantan Timur.
Pihak peneliti bersama pengelola Bukit Bangkirai selain melakukan budidaya anggrek-anggrek alam, juga pengembangan anggrek silangan seperti Anggrek Kala, Anggrek Apple Blossom dan Anggrek Vanda. Selain kebun anggrek, kawasan wisata alam ini juga dilengkapi dengan kebun buah-buahan seluas empat hektare.
Kawasan wisata alam yang dengan mudah dijangkau dari pinggir Jalan Lintas Kalimantan di Kaltim untuk Poros Selatan, Balikpapan-Samarinda itu diberi nama Bukit Bangkirai karena dominan terdapat pohon jenis Bangkirai di kawasan hutan lindung tersebut.
Di kawasan itu banyak terdapat pohon Bangkirai yang berumur lebih dari 150 tahun dengan ketinggian mencapai 40 hingga 50 m, dengan diameter 2,3 m. Pertumbuhan banir (akar papan) yang besar dan kuat menyebabkan pohon bangkirai bisa berusia 100 tahun lebih.
Pihak pengelola dalam upaya melestarikan kawasan itu menawarkan program “adopsi pohon” kepada para sponsor atau donatur untuk menjadi “orangtua asuh” bagi pohon-pohon bangkirai yang dikehendaki. Pihak VIVO JICA Japan tercatat sebagai pihak terbanyak yang mengadopsi pohon di kawasan itu.
“Program ini cukup bagus, jadi bukan hanya anak orangutan yang diadopsi namun juga pohon bangkirai, jadi kawasan wisata ini sangat menarik untuk dikunjungi, tidak hanya sekedar berlibur namun ikut berupaya melestarikan alam,” imbuh Ruslan.
Tidak jauh dari kawasan itu, terdapat Pusat Rehabilitasi Orangutan Wanariset Semboja, sehingga pengunjung yang ingin melihat program pelestarian dari “anak angkat” orangutan (Pongo pygmaues) juga dapat “mampir” ke lokasi yang jaraknya hanya dua kilometer dari jalan masuk ke Bukit Bangkirai.

Posted in: Uncategorized